Thursday, April 25, 2024

Ulama Sunni Terkemuka Dunia Sampaikan Pesan Penting di Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I yang Digelar NU

SURABAYA – Salah satu ulama Sunni yang menjadi rujukan dunia Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi al Maliki al Hasan menyampaikan amanat tentang perdamaian dan pentingnya harmonisasi sesama makhluk di muka bumi.

Pesan Sayyid Ahmad itu diamanatkan melalui Pengasuh Pondok Pesantren Pengembangan Dakwah Nurul Haromain Pujon – Malang, KH. Ihya Ulumiddin, saat Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I di Hotel Shangri-La, Surabaya, pada Senin (6/2/2023).

Dalam acara yang dihadiri Ketua umum PBNU KH. Yahya C. Staquf itu, Sayyid Ahmad menyampaikan pesan bahwa prinsip kehidupan yang harmonis menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan setiap makhluk di muka bumi.

“Maka harmonisasi menjadi tolok ukur utama dalam menjalani kehidupan dengan sesama makhluk beragama,” kata Kiai Ihya membacakan pesan Sayyid Ahmad.

Ia menerangkan, harmonisasi dalam kehidupan itu telah terbukti dan dicontohkan langsung oleh Rasulallah Muhammad SAW dalam membimbing kaum Quraisy dari zaman pra Islam (jahiliyyah) dengan akhlak mulia.

“Mekkah pada saat itu, seperti yang kita ketahui, ada dalam kegelapan dan kejahilan. Tapi Nabi SAW dengan sabar dan akhlak mulianya menghadapi itu,” terang dia.

Sebagai orang yang berpanutan kepada Nabi SAW, terang dia, sepatutnya umat Islam dalam menghadapi setiap tantangan atau perbedaan di zaman sekarang harus menyikapinya dengan kepada dingin dan sikap dewasa sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

“Nabi SAW sebagai panutan kita maka sudah barang tentu patut kita teladani perangainya,” jelas dia.

Rasulallah SAW, lanjut dia, juga mencontohkan untuk mengatasi fitnah yang dapat memecah belah umat di mana umat saat ini sangat membutuhkan kesatuan karena banyak pihak yang ingin meruntuhkannya.

“Yang perlu dilakukan seorang Muslim keterbukaan, loyalitas, dan keadilan, kesadaran atas hak dan kewajiban. Dan tujuan utama dari seorang Muslim adalah agar menjadi khalifah di muka bumi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dalam kesepakatan piagam Madinah Nabi SAW menyepakati untuk tidak membeda-bedakan kedudukan sesama makhluk beragama. Hal ini untuk menghindari perpecahan dan fitnah yang dapat menimbulkan perpecahan pada masa itu.

“Nabi menyamaratakan semua kehidupan pasca piagam Madinah, baik Islam maupun non-Islam,” tuturnya.

Secara khusus, Kiai Ihya menyampaikan apresiasi Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi untuk gelaran akbar Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I ini.

“Saya apresiasi gelaran yang diselenggarakan NU sebagai organisasi moderat dan pilar persatuan Indonesia,” tuntas Kiai Ihya.

Baca Juga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Populer