Thursday, April 25, 2024

Hoaks Merajalela, LTN PBNU Hadirkan Praktisi Media untuk Mengupasnya

TANGERANG SELATAN – Pemimin Redaksi Tempo.co Anton Aprianto menyampaikan tips untuk mengenali bermacam hoaks atau berita palsu dan cara menangkalnya.

Hal itu disampaikan saat Anton menjadi narasumber dalam seminar bertajuk ‘Mengenal dan Menangkal Hoaks’ yang digelar Lembaga Ta’lif wa Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) dan PT Telkom Indonesia di Pesantren Madinatunnajah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (28/2/2023).

Anton menyebutkan survei terakhir yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Tempo menunjukkan, 70 persen sumber informasi bersumber dari media sosial.

Ia menjelaskan, salah satu cara untuk mengenali apakah suatu berita itu hoaks atau bukan adalah dengan mempertimbangkan unsur logika.

“Misalnya ongkos naik haji turun jadi 5 juta, itu pasti hoaks karena ak logis. Jadi, logika harus dibangun,” katanya.

Penyebaran hoaks sangat berbahaya, sehingga harus disaring terlebih dulu sebelum di-sharing (dibagikan). Sebab semakin lama dan sering dibagikan, hoaks tersebut akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

Kemudian, ciri hoaks adalah berita yang menggunakan unsur clickbait atau umpan klik. Artinya, sebuah artikel memakai judul bombastis tetapi isinya tidak ada yang menarik.

“Biasanya kalau media-media online tujuannya untuk menarik traffict. Sekarang media di Indonesia sedang tidak baik-baik saja, karena media cetak sedang turun. Orang sudah bermigrasi ke dunia digital,” katanya.

Bijaklah Bermedsos

Anton menjelaskan, produksi terbesar hoaks ada di media sosial sehingga ia mengingatkan untuk bijak dalam berselancar di media sosial.

“Tanggung jawab kita sebagai pengguna medsos itu besar. Kalau kita belum benar-benar memastikan fakta atau hoaks, jangan disebarluaskan,” tegas Anton.

Di era digital saat ini, ia mengingatkan ada UU ITE yang bisa menjerat siapa pun. Anton mewanti-wanti agar di media sosial tidak digunakan sebagai wadah untuk meluapkan emosi.

“Kalau emosi jangan di media sosial. Misuh-misuh di medosos, curhat. Yang rahasia-rahasia jangan diungkap ke publik. Kalau orang nggak senang, bisa menuntut (dikenai UU ITE),” katanya.

Sepanjang 2018 hingga saat ini, kata Anton, ada 9417 konten yang sudah terdefinisi sebagai hoaks di medsos. Bahkan, ada 80 ribu situs yang menyebarkan hoaks. Sebagian besar motif produsen hoaks adalah kebutuhan ekonomi.

“Prinsip dasar mengenal hoaks adalah tidak mudah percaya. Jangan mudah percaya. Belajarlah untuk verifikasi. Jangan langsung marah,” ucapnya.

Untuk mengetahui hoaks atau tidak yang ada di media online, diperlukan untuk melihat tautan dan periksa dengan teliti apakah berita yang diunggah itu bersumber dari media kredibel atau terverifikasi.

“Jangan mudah meneruskan. Kebiasaan, ini harus dikurangi. Biasakan memeriksa kebenaran informasi yang diterima sebelum menyebar,” katanya.

Alasan Orang Memproduksi Hoaks

Komunikator Pemasaran Telkom Indihome Afifuddin menjelaskan alasan-alasan orang-orang yang sengaja memproduksi hoaks.

Pertama, untuk memancing perhatian supaya dapat keuntungan. Mereka sengaja sengaja memancing agar berita atau ceritanya itu didengar dan dibaca.

“Makanya hati-hati kalau ada berita. Jangan langsung dipercaya,” kata Afif.

Kedua, berniat menyebarkan propaganda atau mempengaruhi publik. Mereka termotivasi untuk menyebarkan berita tidak benar.

Ketiga, clickbait atau umpan balik. Mereka sengaja membuat judul heboh atau berlebihan. Tujuannya agar mendapat traffict pembaca atau penonton yang banyak.

“Judulnya heboh padahal beritanya tidak ada apa-apa. Judulnya heboh, dia sengaja untuk menairk perhatian,” kata Afif.

Baca Juga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Populer