Thursday, April 25, 2024

Kasus Gontor, Menag Yaqut & PBNU: Pesantren Lembaga Independen

EraKita.id – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dan Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf angkat suara soal kasus tewasnya santri Pondok Pesantren Gontor berinisial AM (17 Tahun) yang diduga dianiaya sesama santri.

Yaqut mengatakan pihaknya telah memiliki keputusan menteri agama (KMA) terkait pesantren. Aturan itu, kata dia, telah terkandung upaya pesantren dalam melindungi para santri dan mengajarkan contoh yang baik.

“Kita sudah buat peraturan-peraturan semacam ini. Tapi kawan-kawan semua, kita harus tahu bahwa pesantren itu lembaga yang otonomi lembaga yang independen. Yang tidak bisa semua orang asal masuk ke dalamnya, enggak bisa,” kata Yaqut di Mabes TNI AD, Jakarta, Rabu (7/9/2022).

Yaqut mengatakan pihaknya tak mudah untuk melakukan intervensi lebih jauh terkait internal pesantren. Sebab pesantren merupakan lembaga pendidikan independen dan tidak struktural di bawah Kemenag.

Karenanya, Ia mengaku tengah mempersiapkan berbagai pendekatan dan pengawasan untuk menyelesaikan persoalan tindak kekerasan di lingkungan pesantren.

“Pengawasan bisa, tapi kalau disebut kita melakukan intervensi atau campur tangan yang dalam, dalam pesantren itu enggak bisa. Karena itu lembaga yang sangat independen dan tidak struktural di bawah kementerian,”kata dia.

Di sisi lain, Yaqut turut menjelaskan bahwa Kemenag memiliki kewenangan untuk mencabut izin pesantren bila ditemukan tindak kekerasan. Namun, tindak kekerasan itu harus bersifat secara terstruktur dan sistematis.

“Yang bisa kita lakukan adalah jika itu terbukti secara sistematis pesantren melakukan kekerasan, pelecehan dan seterusnya, kita cabut izin operasionalnya. Karena izin operasional pesantren itu ada di Kemenag,” kata dia.

“Kita lihat dulu nanti dalam kasus ini sistematis atau sanksi. Sanksi kan sanksi hukum,” tambahnya.

Terpisah, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf menilai tewasnya santri di Gontor sebagai kecelakaan. Ia mengatakan pihak Gontor pasti tak mudah untuk mengawasi para santrinya yang jumlahnya belasan ribu.

“Kita bisa bayangkan yang seperti pesantren Gontor yang santrinya sampai belasan ribu mana mengelola mengawasi sekian banyak santri tentu bukan hal yang mudah. Dan hal-hal seperti ini yang dalam perspektif ini tentu bisa kita katakan seperti semacam kecelakaan,” kata Yahya di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta.

Yahya mengaku prihatin dan mendukung Gontor untuk mengatasi persoalan ini dengan baik. Ia pun menyerukan semua pesantren di lingkungan NU untuk lebih memperhatikan sistem pengawasan kepada santri-santrinya.

Ia percaya bahwa pihak pesantren sudah berusaha membuat skema atau manajemen pengawasan dengan sebaik-baiknya. Namun, tak dipungkiri kasus seperti di Gontor bisa saja terjadi dari sekian banyak santri.

“Mudah-mudahan di masa yang akan datang bisa lebih dikelola dengan baik dan bisa dicegah agar hal ini tidak terulang,” kata Yahya.

Di sisi lain, Yahya juga menolak penggunaan instrumen kekerasan sebagai sanksi kepada santri yang tak disiplin. Ia menyinggung selama ini pemberian sanksi kepada santri biasanya sekadar hukuman kerja bakti atau melipatgandakan tugas.

“Itu tidak dengan kekerasan sampai ada penjatuhan sanksi dengan kekerasan, itu secara mutlak harus kita tolak. Jangan sampai ada itu, setahu saya selama ini tidak diperbolehkan memberikan sanksi dengan kekerasan,” kata Yahya.

Sebagai informasi, kasus tewasnya santri di Gontor terungkap saat seorang Ibu mengadu bahwa anaknya yang berinisial AM (17 tahun) meninggal tidak wajar di Pondok Pesantren Gontor 1.

Setelah aduan ini viral, pihak Ponpes pun akhirnya buka suara dan mengakui bahwa AM memang meninggal akibat tindakan kekerasan. Dua orang santri yang diduga terlibat dalam insiden itu sudah dikeluarkan dari Gontor. (*)

Baca Juga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Populer